Guru bukanlah profesi, menjadi guru adalah pilihan hidup. Sebuah
pilihan yang tidak hanya mempengaruhi hidup seorang guru saja namun juga
puluhan dan ratusan anak-anak. Meskipun ini adalah cita-citaku sejak kecil
namun aku juga punya mimpi lain yang ingin aku wujudkan.
Tak usah meratapi apa yang telah terjadi karena kini aku
bersyukur menjadi seorang pendidik. Mungkin secara finansial aku tak seperti
teman-temanku yang lain tapi aku memiliki segudang cerita dan kenangan indah
bersama anak-anakku.
Menjadi guru SMP yang notabene siswanya merupakan remaja yang
tengah mencari jati diri bukan hal yang mudah. Memang secara pemikiran mereka
lebih mudah untuk menerima pelajaran namun secara psikis mereka adalah pribadi
yang rapuh.
Meskipun aku mengampu mata pelajaran eksak yang notabene serius
namun aku mencoba mendalami sisi psikologis mereka. Aku tak mau hanya mengajar
namun aku juga ingin mendidik. Tak muluk, keinginanku hanya ingin berkontribusi
secara positif kepada mereka. Aku ingin membantu mereka menemukan jati diri
yang baik, jati diri yang mampu membuat mereka menjadi seorang yang sukses di
masa depan.
Aku memang belum lama berkecimpung di dunia ini dan tak banyak
pengalaman yang aku punya namun aku selalu berusaha untuk menjadi lebih baik
meskipun masih banyak kekurangan. Aku tahu aku bukanlah guru yang pandai dan
baik, aku masih sering kesulitan menjelaskan, aku juga masih sering
marah-marah, kesal, dan bete ketika mengajar namun aku selalu berusaha memperbaiki
itu.
Satu prinsiku, seberat apapun masalah yang kita hadapi, sehancur
apapun perasan kita, atau segalau apapun hati kita, tapi aku tak pernah mau
menunjukkan ke mereka atau hanya memberi mereka tugas saja demi menghindari
tugasku untu mengajar. Pantang sekali bagiku untuk melakukan itu. Aku memang
sering marah-marah dan aku bukanlah orang yang sabar namun aku tak pernah ingin
memarahi mereka tanpa alasan atau hanya karena masalah pribadi. Kalaupun aku
marah-marah itu lebih karena aku menyayangi mereka. Aku ingin mereka sadar dan
segera mengubah sifat buruk mereka. Sebenci-bencinya aku dengan seorang murid
pantang bagiku untuk tidak memperhatikannya.
Di sela-sela waktu mengajar yang kadang terasa berat buat
mereka, aku selalu menyisipkan cerita inspiratif, motivasi, dan nasehat buat
mereka agar mereka lebih baik. Karena aku ingin mereka tak hanya pintar secara
otak tapi pintar secara akhlak. Aku pun mencoba untuk bersikap tegas dan
disiplin sehingga kadang mereka sebel denganku namun itu aku lakukan demi kebaikan
mereka.
Sudah dua angkatan aku mengajar, banyak kisah indah dan sedih
yang aku lewati. Ah seandainya aku bisa memilih, aku ingin mengajar mereka
selamanya. Aku ingin melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang sukses. Senang
hatiku ketika mereka menyapaku dan mencium tanganku. Hal sepele yang kadang
mereka lupakan tapi begitu berharga bagiku.
Begitu bangga jika melihat muridku yang dulu bandel sekarang
mulai terarah namun begitu sedih hatiku jika mereka yang dulu aku bina
mati-matian namun sekarang berubah kembali menjadi nakal. Rasanya aku ingin
menarik mereka dan aku ingin mengajarinya lagi.
Dulu seoang anak Les pernah berkata kepadaku bahwa gara-gara
aku, dia sekarang bisa dan suka Biologi dan dia berharap aku menjadi gurunya
nanti. Ada juga anak yang mengatakan aku membawa aura positif dalam kelas. Malu
rasanya jika mengingat hal itu namun aku bangga dan itu sebagai motivasiku
dalam mengajar lebih baik lagi.
Tidak hanya itu, setiap pembelajaran akhir semester pasti aku
selalu mengadakan evaluasi, banyak catatan dari merekan, diantaranya : ibu itu
terlalu lebay saat mengajar, ibu disiplin tapi juga galak jadi Deg-degan saat
ibu mengajar, Suara ibu terlalu lembut dan merdu hingga membuat saya mengantuk,
Ibu suka modar-mandir saat mengajar sehingga membuat saya bingung, ibu tidak
mau melepas sepatu saat mengajar, ibu sangat peduli kepada kami, ibu mengajar
tidak membosankan, ibu selalu terlihat rapi dan cantik, ibu bisaa membuat kami
tertawa lepas, ibu selalu memotivasi dengan kata-kata yang baik, ibu mengajar
dengan bermain, kami suka saat kita chiken dance. Dan sekarang saya sangat
senang membaca catatan-catatan kecil yang kalian berikan. Jika saya mengajar
terlalu menggunakan jiwa sampai terkadang jadi terlalu berlebiahan
memperlakukan kalian.

2 komentar:
mbak mimi kereeen
mbak mimi kereeen
Posting Komentar