Sabtu, 14 Desember 2013

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku...

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku...
sudah berlarut-larut rasanya aku terbawa dalam arah kerisauan rasa, rasanya ingin segera ku selesaikan tanpa harus mengorbankan perasaanmu maupun perasaanku,,
Seperti yang engkau tau, aku selalu berusaha terlihat baik dihadapanmu dan orang lain. Saat didepanmu aku selalu berusaha berlaku normal meski itu sulit.. itulah karena ada cinta di hatiku


Tahukah engkau wahai yang mampu melumpuhkan hatiku...
Entah mengapa aku dengan mudah berkata " aku juga cinta kamu", dengan orang lain sangat berhati-hati untuk mengatakan itu, kamu tau kenapa itu terasa begitu mudah terucapkan, karena itu adalah ungkapan hati yanng aku sendiri tidak bisa melawannya. entahlah denganmu serasa semua mengalir begitu saja, aku bisa dengan jujur mengatakan isi hatiku walau ku tau engkau pun tau persis bagaimana perasaanku..kenapa harus memulai mengatakan seperti itu jika tidak ingin melanjutkannya. kenapa harus menebar benih jika tidak ingin memetiknya. mengapa harus memanjing jika hanya menuruti kesenangan semata saja. mungkin kamu sedang khilaf, tapi kekhilafanmu itu memberikan luka yang sangat luar biasa.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku...
Andai aku boleh berdo'a kepada Allah,, mungkin aku ingin meminta agar Dia membalikkan sang waktu agar aku mampu mengedit saat-saat pertemuan itu hingga tak ada tatapan pertama itu yang membuat hati ini terus mengingatmu. Andai aku buta, tentu itu lebih baik daripada aku harus lumpuh seperti ini... Namun semua sudah terjadi, perkenalan denganmu yang lalu adalah takdir hingga aku terus mencintaimu hingga saat ini.


Banyak lembaran buku yang telah aku telusuri, banyak teman yang tlah kumintai pendapat karena perasaan yang membingungkan, aku mencintaimu tapi aku takut membawamu dalam dosa, aku tau kamu kamu punya keimanan yang kuat. Sebahagian mendorongku untuk mengakhiri segala prasangka tentangmu tentang dia karena sebahagian prasangka adalah suatu kesalahan, mereka memintaku untuk menutup semua perasaanku terhadapmu. Namun di titik yang lain ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap menahan rasa yang terlalu awal yang telah tertancap dihati ini dan membukanya saat waktu yang indah yang telah ditentukan itu... Andai itu bukan mimpi..

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku...
Mungkin saat ini hatiku milikmu, namun tak akan ku berikan sedetik pun saat-saat ini karena aku telah bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku hanya akan ku berikan kepada SUAMI ku kelak,


Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku...
Aku yang tidak mengerti diriku...
aku tidak meminta untuk mencintaimu, ketika cinta datang dengan sendirinya, akupun tudak bisa menolak. semua terjadi begitu cepat.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku..
Izinkah aku untuk menutup catatan kecilku ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara kita. Mungkin nanti saat dimana mungkin engkau telah menimang cucu-cucumu dan aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama saat mengingat kisah kita yang tragis ini, atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebahagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa  akhirnya kita berbuka setelah menahan perih rindu yang begitu mengguncang...amin.


Tidak ada komentar: