Wahai engkau yang telah
melumpuhkan hatiku...
sudah berlarut-larut
rasanya aku terbawa dalam arah kerisauan rasa, rasanya ingin segera ku
selesaikan tanpa harus mengorbankan perasaanmu maupun perasaanku,,
Seperti yang engkau tau,
aku selalu berusaha terlihat baik dihadapanmu dan orang lain. Saat didepanmu
aku selalu berusaha berlaku normal meski itu sulit.. itulah karena ada cinta di
hatiku
Tahukah engkau wahai
yang mampu melumpuhkan hatiku...
Entah mengapa aku dengan
mudah berkata " aku juga cinta kamu", dengan orang lain sangat
berhati-hati untuk mengatakan itu, kamu tau kenapa itu terasa begitu mudah
terucapkan, karena itu adalah ungkapan hati yanng aku sendiri tidak bisa
melawannya. entahlah denganmu serasa semua mengalir begitu saja, aku bisa
dengan jujur mengatakan isi hatiku walau ku tau engkau pun tau persis bagaimana
perasaanku..kenapa harus memulai mengatakan seperti itu jika tidak ingin
melanjutkannya. kenapa harus menebar benih jika tidak ingin memetiknya. mengapa
harus memanjing jika hanya menuruti kesenangan semata saja. mungkin kamu sedang
khilaf, tapi kekhilafanmu itu memberikan luka yang sangat luar biasa.
Wahai engkau yang telah
melumpuhkan hatiku...
Andai aku boleh berdo'a
kepada Allah,, mungkin aku ingin meminta agar Dia membalikkan sang waktu agar
aku mampu mengedit saat-saat pertemuan itu hingga tak ada tatapan pertama itu
yang membuat hati ini terus mengingatmu. Andai aku buta, tentu itu lebih baik
daripada aku harus lumpuh seperti ini... Namun semua sudah terjadi, perkenalan
denganmu yang lalu adalah takdir hingga aku terus mencintaimu hingga saat ini.
Banyak lembaran buku
yang telah aku telusuri, banyak teman yang tlah kumintai pendapat karena
perasaan yang membingungkan, aku mencintaimu tapi aku takut membawamu dalam
dosa, aku tau kamu kamu punya keimanan yang kuat. Sebahagian mendorongku untuk
mengakhiri segala prasangka tentangmu tentang dia karena sebahagian prasangka
adalah suatu kesalahan, mereka memintaku untuk menutup semua perasaanku
terhadapmu. Namun di titik yang lain ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap
menahan rasa yang terlalu awal yang telah tertancap dihati ini dan membukanya
saat waktu yang indah yang telah ditentukan itu... Andai itu bukan mimpi..
Wahai engkau yang telah
melumpuhkan hatiku...
Mungkin saat ini hatiku
milikmu, namun tak akan ku berikan sedetik pun saat-saat ini karena aku telah
bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku hanya akan ku berikan kepada
SUAMI ku kelak,
Wahai engkau yang telah
melumpuhkan hatiku...
Aku yang tidak mengerti
diriku...
aku tidak meminta untuk
mencintaimu, ketika cinta datang dengan sendirinya, akupun tudak bisa menolak.
semua terjadi begitu cepat.
Wahai engkau yang telah
melumpuhkan hatiku..
Izinkah aku untuk
menutup catatan kecilku ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara
kita. Mungkin nanti saat dimana mungkin engkau telah menimang cucu-cucumu dan
aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama saat mengingat
kisah kita yang tragis ini, atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut
jalan menuju keindahan sebahagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa
akhirnya kita berbuka setelah menahan perih rindu yang begitu
mengguncang...amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar