Selasa, 23 Desember 2014

Asyiknya Menjadi Guru




Guru bukanlah profesi, menjadi guru adalah pilihan hidup. Sebuah pilihan yang tidak hanya mempengaruhi hidup seorang guru saja namun juga puluhan dan ratusan anak-anak. Meskipun ini adalah cita-citaku sejak kecil namun aku juga punya mimpi lain yang ingin aku wujudkan.
Tak usah meratapi apa yang telah terjadi karena kini aku bersyukur menjadi seorang pendidik. Mungkin secara finansial aku tak seperti teman-temanku yang lain tapi aku memiliki segudang cerita dan kenangan indah bersama anak-anakku.
Menjadi guru SMP yang notabene siswanya merupakan remaja yang tengah mencari jati diri bukan hal yang mudah. Memang secara pemikiran mereka lebih mudah untuk menerima pelajaran namun secara psikis mereka adalah pribadi yang rapuh.


Meskipun aku mengampu mata pelajaran eksak yang notabene serius namun aku mencoba mendalami sisi psikologis mereka. Aku tak mau hanya mengajar namun aku juga ingin mendidik. Tak muluk, keinginanku hanya ingin berkontribusi secara positif kepada mereka. Aku ingin membantu mereka menemukan jati diri yang baik, jati diri yang mampu membuat mereka menjadi seorang yang sukses di masa depan.

Aku memang belum lama berkecimpung di dunia ini dan tak banyak pengalaman yang aku punya namun aku selalu berusaha untuk menjadi lebih baik meskipun masih banyak kekurangan. Aku tahu aku bukanlah guru yang pandai dan baik, aku masih sering kesulitan menjelaskan, aku juga masih sering marah-marah, kesal, dan bete ketika mengajar namun aku selalu berusaha memperbaiki itu.
Satu prinsiku, seberat apapun masalah yang kita hadapi, sehancur apapun perasan kita, atau segalau apapun hati kita, tapi aku tak pernah mau menunjukkan ke mereka atau hanya memberi mereka tugas saja demi menghindari tugasku untu mengajar. Pantang sekali bagiku untuk melakukan itu. Aku memang sering marah-marah dan aku bukanlah orang yang sabar namun aku tak pernah ingin memarahi mereka tanpa alasan atau hanya karena masalah pribadi. Kalaupun aku marah-marah itu lebih karena aku menyayangi mereka. Aku ingin mereka sadar dan segera mengubah sifat buruk mereka. Sebenci-bencinya aku dengan seorang murid pantang bagiku untuk tidak memperhatikannya.

Di sela-sela waktu mengajar yang kadang terasa berat buat mereka, aku selalu menyisipkan cerita inspiratif, motivasi, dan nasehat buat mereka agar mereka lebih baik. Karena aku ingin mereka tak hanya pintar secara otak tapi pintar secara akhlak. Aku pun mencoba untuk bersikap tegas dan disiplin sehingga kadang mereka sebel denganku namun itu aku lakukan demi kebaikan mereka.
Sudah dua angkatan aku mengajar, banyak kisah indah dan sedih yang aku lewati. Ah seandainya aku bisa memilih, aku ingin mengajar mereka selamanya. Aku ingin melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang sukses. Senang hatiku ketika mereka menyapaku dan mencium tanganku. Hal sepele yang kadang mereka lupakan tapi begitu berharga bagiku.
Begitu bangga jika melihat muridku yang dulu bandel sekarang mulai terarah namun begitu sedih hatiku jika mereka yang dulu aku bina mati-matian namun sekarang berubah kembali menjadi nakal. Rasanya aku ingin menarik mereka dan aku ingin mengajarinya lagi.
Dulu seoang anak Les pernah berkata kepadaku bahwa gara-gara aku, dia sekarang bisa dan suka Biologi dan dia berharap aku menjadi gurunya nanti. Ada juga anak yang mengatakan aku membawa aura positif dalam kelas. Malu rasanya jika mengingat hal itu namun aku bangga dan itu sebagai motivasiku dalam mengajar lebih baik lagi.

Tidak hanya itu, setiap pembelajaran akhir semester pasti aku selalu mengadakan evaluasi, banyak catatan dari merekan, diantaranya : ibu itu terlalu lebay saat mengajar, ibu disiplin tapi juga galak jadi Deg-degan saat ibu mengajar, Suara ibu terlalu lembut dan merdu hingga membuat saya mengantuk, Ibu suka modar-mandir saat mengajar sehingga membuat saya bingung, ibu tidak mau melepas sepatu saat mengajar, ibu sangat peduli kepada kami, ibu mengajar tidak membosankan, ibu selalu terlihat rapi dan cantik, ibu bisaa membuat kami tertawa lepas, ibu selalu memotivasi dengan kata-kata yang baik, ibu mengajar dengan bermain, kami suka saat kita chiken dance. Dan sekarang saya sangat senang membaca catatan-catatan kecil yang kalian berikan. Jika saya mengajar terlalu menggunakan jiwa sampai terkadang jadi terlalu berlebiahan memperlakukan kalian. 

2 komentar: