Adikku...
Aku tahu hatimu sedang pedih,
karena jiwa yang kau cintai
dan kau baktikan hidupmu untuknya,
menaruhmu di urutan akhir
dalam perhatiannya.
...
Jika ia belum mampu memuliakanmu,
engkau berharap setidaknya ia mengasihimu.
Engkau hidup untuknya,
tetapi mengapakah engkau seolah harus mengemis
bagi sedikit perhatiannya?
Adikku, bersabarlah.
semangat dan jangan malu mengukir cita..
Aku tahu hatimu sedang pedih,
karena jiwa yang kau cintai
dan kau baktikan hidupmu untuknya,
menaruhmu di urutan akhir
dalam perhatiannya.
...
Jika ia belum mampu memuliakanmu,
engkau berharap setidaknya ia mengasihimu.
Engkau hidup untuknya,
tetapi mengapakah engkau seolah harus mengemis
bagi sedikit perhatiannya?
Adikku, bersabarlah.
semangat dan jangan malu mengukir cita..
Dunia tercipta lengkap dengan negasinya, ada hidup ada mati, ada merah
ada putih, ada kanan ada kiri, ada sosialisme ada kapitalisme, ada hitam ada putih,
ada timur ada barat. Banyak hal yang berlawanan, saking banyaknya semua kata
itu dihimpun dalam satu kamus antonim.begitu juga hidup ada kaya ada juga yang
miskin.
Mungkin aku, kamu, kita, kami, kalian, atau mereka juga terjebak dalam
negasi masing-masing. Satu hal yang lebih dari sekedar perbedaan, satu hal yang
ditakdirkan bersebrangan, membutuhkan diplomat ulung untuk mencapai suatu nota
kesepahaman. Karena sepertinya moderat sejati itu tidak pernah ada. Sama
seperti hak asasi manusia yang klise. saya percaya tidak ada kebebasan yang
benar-benar bebas, walau itu dibingkai dalam piagam hak asasi sekalipun, karena
kebebasannmu bisa jadi menganggu kebebasanku.
Dunia diciptakan lengkap dengan porsi dan juga aturannya, Dialah yang
menciptakan dunia yang mampu menciptakan aturan sejati. Dialah Maha Adil yang
tak diragukan lagi.
Sosok kecil itu bernama manusia, luasnya dunia menyediakan ekosistem
yang berbeda antara yang satu dan yang lainnya. Sosok pemikir itu bernama
manusia, ia terus bergerak menemukan makna diri, menciptakan tata kehidupan
yang terbaik, bereksperimen dengan apa yang disebut pemikiran. Dari hari ke
hari, hingga abad ke abad dunia terus berputar dengan sejarahnya, sebagai
akibat dari pemikiran kreatif insan manusia.
Namun disisi lain sebagian sosok kecil itu
tengah menguji kesabaranya untuk Menananti roda kehidupan yanng terus berputar,
ini awal mulai cerita bagaimana mereka harus memanajemen hati supaya tidak
menolehkan kepalanya keatas untuk melihat mereka yang jauh lebih sempurna dibandingkan
mereka, Pada awalnya saya sangat benci ketika melihat banyak anak-anak kecil
yang mengemis dijalanan, saya berfikiran bahwa mereka adalah seseorang yang
malas yang tidak mau berusaha, mereka memanfaatkan takdir tanpa disertai usaha
, usaha mereka hanya sebatas mengemis dijalanan.hmmm..."negatif sekali ya.
kemudian entah badai apa yang dapat memutar
otak saya, sehingga bisa berubah, ini juga karena kebiasaan saya sering
mengunjungi tempat yang setiapa saat banyak akan saya temui mereka berkeliaran
di depan mata saya, kemudian saya coba berbincang dengan salah satu dari
mereka, satu pertanyaan yang waktu itu saya tanyakan " ade kalau boleh
tau, apa cita-cita kamu, dengan tegas mereka menjawab, " cita-cita saya
ingin menjadi pengemis mbg,. hati saya semakin bergejolak, jelas mereka menjadi
pengemis, toh itu sudah menjadi cita-cita mereka.
saya coba bertanya sekali lagi, " Apa
kamu tidak mau mempunyai cita-cita yang lain. tidak mb, saya bercita-cita
sesuai dengan keadaan saya, mempunyai cita-cita yang terlalu tinggi itu
nanti hanya akan membebani saya dan keluarga saya, sementara ini saya cuma
bercita-cita untuk menjadi pengemis yang sukses . kembali saya coba untuk
memahami kata demi kata yang mereka ucapkan, lalu saya fikirkan kembali,
ternyata itu bukan keinginan meraka tetapi keadaanlah yang memaksa mereka
menjalani aktifitas seperti itu.
pilihan hidup yang harus mereka jalani, tanpa
disertakan pilihan yang lain, sehingga mereka harus berpanas-panasan setiap
hati untuk memperolah rupiah. usaha mereka sebenarnya jauh lebih keras di
bandingkan degan kuli bangunan sekalipun. kaki-kaki kecil itu setiap hari
terbakar oleh teriknya matahati tanpa alas, mereka tidak perduli dengan
penampilah mereka yang sangat lusuh, mereka tidak pernah capek yang mereka
fikirkan adalah bagaimana untuk mendapatkan makan untuk hari ini. hati meraka
yang masih suci dan lembut itu seolah mengeras dengan sendirinya karana
kerasnya hidup yang mereka jalani.
Dalam petualangan menciptakan tatanan dunia itu mereka terus mencari,
sebagian sampai pada Yang hakiki dan sebagian lagi terhenti. Pada suatu hari
aku berkesimpulan, bukankah lebih indah ketika kita mempelajari pesan langit
yang dikirim untuk makhluk bumi layaknya hujan yang membagikan sumber kehidupan
secara merata di muka bumi, bagaimana kita bisa bahagia di tengah kesulitan
mereka yang tanpa kita sadari adalah saudara kita sendiri?
semangat mereka adalah pembelajaran yang sangat berharga untuk
orang-orang yang tidak memiliki rasa syukur....>>Berilah sedikit perhatian
untuk mereka, sebagaimana Tuhan telah memberikan berbagai perhatian dan
kemudahan untuk sebagian makluknya yang sedang diberikan cobaan kekayaan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar