Rabu, 11 September 2013

Tuhan Sayangkah Engkau Padanya...???


Adikku...
Aku tahu hatimu sedang pedih,
karena jiwa yang kau cintai
dan kau baktikan hidupmu untuknya,
menaruhmu di urutan akhir
dalam perhatiannya.
...
Jika ia belum mampu memuliakanmu,
engkau berharap setidaknya ia mengasihimu.

Engkau hidup untuknya,
tetapi mengapakah engkau seolah harus mengemis
bagi sedikit perhatiannya?

Adikku, bersabarlah.
semangat dan jangan malu mengukir cita..
 
 
Dunia tercipta lengkap dengan negasinya, ada hidup ada mati, ada merah ada putih, ada kanan ada kiri, ada sosialisme ada kapitalisme, ada hitam ada putih, ada timur ada barat. Banyak hal yang berlawanan, saking banyaknya semua kata itu dihimpun dalam satu kamus antonim.begitu juga hidup ada kaya ada juga yang miskin.

Mungkin aku, kamu, kita, kami, kalian, atau mereka juga terjebak dalam negasi masing-masing. Satu hal yang lebih dari sekedar perbedaan, satu hal yang ditakdirkan bersebrangan, membutuhkan diplomat ulung untuk mencapai suatu nota kesepahaman. Karena sepertinya moderat sejati itu tidak pernah ada. Sama seperti hak asasi manusia yang klise. saya percaya tidak ada kebebasan yang benar-benar bebas, walau itu dibingkai dalam piagam hak asasi sekalipun, karena kebebasannmu bisa jadi menganggu kebebasanku.
Dunia diciptakan lengkap dengan porsi dan juga aturannya, Dialah yang menciptakan dunia yang mampu menciptakan aturan sejati. Dialah Maha Adil yang tak diragukan lagi.

Sosok kecil itu bernama manusia, luasnya dunia menyediakan ekosistem yang berbeda antara yang satu dan yang lainnya.  Sosok pemikir itu bernama manusia, ia terus bergerak menemukan makna diri, menciptakan tata kehidupan yang terbaik, bereksperimen dengan apa yang disebut pemikiran. Dari hari ke hari, hingga abad ke abad dunia terus berputar dengan sejarahnya, sebagai akibat dari pemikiran kreatif insan manusia.

Namun disisi lain sebagian sosok kecil itu tengah menguji kesabaranya untuk Menananti roda kehidupan yanng terus berputar, ini awal mulai cerita bagaimana mereka harus memanajemen hati supaya tidak menolehkan kepalanya keatas untuk melihat mereka yang jauh lebih sempurna dibandingkan mereka, Pada awalnya saya sangat benci ketika melihat banyak anak-anak kecil yang mengemis dijalanan, saya berfikiran bahwa mereka adalah seseorang yang malas yang tidak mau berusaha, mereka memanfaatkan takdir tanpa disertai usaha , usaha mereka hanya sebatas mengemis dijalanan.hmmm..."negatif sekali ya.

kemudian entah badai apa yang dapat memutar otak saya, sehingga bisa berubah, ini juga karena kebiasaan saya sering mengunjungi tempat yang setiapa saat banyak akan saya temui mereka berkeliaran di depan mata saya, kemudian saya coba berbincang dengan salah satu dari mereka, satu pertanyaan yang waktu itu saya tanyakan " ade kalau boleh tau, apa cita-cita kamu, dengan tegas mereka menjawab, " cita-cita saya ingin menjadi pengemis mbg,. hati saya semakin bergejolak, jelas mereka menjadi pengemis, toh itu sudah menjadi cita-cita mereka.

saya coba bertanya sekali lagi, " Apa kamu tidak mau mempunyai cita-cita yang lain. tidak mb, saya bercita-cita sesuai dengan keadaan saya, mempunyai cita-cita yang terlalu  tinggi itu nanti hanya akan membebani saya dan keluarga saya, sementara ini saya cuma bercita-cita untuk menjadi pengemis yang sukses . kembali saya coba untuk memahami kata demi kata yang mereka ucapkan, lalu saya  fikirkan kembali, ternyata itu bukan keinginan meraka tetapi keadaanlah yang memaksa mereka menjalani aktifitas seperti itu.

pilihan hidup yang harus mereka jalani, tanpa disertakan pilihan yang lain, sehingga mereka harus berpanas-panasan setiap hati untuk memperolah rupiah. usaha mereka sebenarnya jauh lebih keras di bandingkan degan kuli bangunan sekalipun. kaki-kaki kecil itu setiap hari terbakar oleh teriknya matahati tanpa alas, mereka tidak perduli dengan penampilah mereka yang sangat lusuh, mereka tidak pernah capek yang mereka fikirkan adalah bagaimana untuk mendapatkan makan untuk hari ini. hati meraka yang masih suci dan lembut itu seolah mengeras dengan sendirinya karana kerasnya hidup yang mereka jalani.
 
"kAMi Masih Punya Semangat"
Dalam petualangan menciptakan tatanan dunia itu mereka terus mencari, sebagian sampai pada Yang hakiki dan sebagian lagi terhenti. Pada suatu hari aku berkesimpulan, bukankah lebih indah ketika kita mempelajari pesan langit yang dikirim untuk makhluk bumi layaknya hujan yang membagikan sumber kehidupan secara merata di muka bumi, bagaimana kita bisa bahagia di tengah kesulitan mereka yang tanpa kita sadari adalah saudara kita sendiri?

semangat mereka adalah pembelajaran yang sangat berharga untuk orang-orang yang tidak memiliki rasa syukur....>>Berilah sedikit perhatian untuk mereka, sebagaimana Tuhan telah memberikan berbagai perhatian dan kemudahan untuk sebagian makluknya yang sedang diberikan cobaan kekayaan.
 
 

 

Tidak ada komentar: