Ketika saya kecil ibu saya selalu berkata,
"orang-orang yang memperhatikan hal kecil akan juga peduli dengan hal-hal
besar dan sebaliknya, orang yang luput dengan hal-hal kecil, akan semakin lalai
dengan sesuatu yang lebih besar". Sebuah pelajaran sederhana yang tentu
sangat susah diambil hikmahnya. Sama dengan bagaimana kita mempola hidup dan
membuat dampak yang jauh lebih besar. Dalam berjalan di arena kampuspun sy
berusaha tidak melalaikan hal-hal kecil.mari kita mulai dari kisah seorang
aktifis, Mengapa ? dengan sebuah kalimat
yang pernah diucapkan oleh teman saya "ternyata aktivis itu nggak bisa
lepas dari aktivitas-aktivitas seperti itu ya ?" pernyataan itu
terlontar kepada saya tepat setelah sekarang bukan siapa2, dan pada kesempatan
ini saya jawab, "why ? siapa yang bangga disebut mantan aktivis
?".
Kebanyakan dari aktivis kampus sangat gahar ketika masih di Universitas,
namun perlahan memudar ketika mengenal dunia nyata, mulai mengambang dalam
mengenali siapa dirinya dan langkah kelajutan apa yang akan dia ambil, dari
100% pelaku, tidak lebih dari 30% yang konsisten dengan pilihannya. Bisa jadi
karena tuntutan zaman atau tidak terfasilitasi untuk menjadi diri
sendiri. Pada realitanya tidak ada yang biasa memfasilitasi impian2 kita
dengan mudah, pada realitanya mmasih banyak yang berusaha menggadaikan
idealismenya, pada realitanya tidak semua teori dapat diterima dengan baik.
Saya punya
sekelompok saudara , 'yang sampai kapanpun akan tetap menjadi saudara', kami
sama-sama bermimpi pada forum-forum yang hidup hingga pagi. Tentang masa depan,
bukan masa depan sederhana, masa depan Lampung, masa depan Indonesia, dan masa
depan Dunia. Bak pembuat kebijakan atau think thank Bank Dunia yang memiliki
kendali besar kami semangat berdiskusi, belajar merumuskan hal-hal besar,
bersama di masa muda, kami menari-nari di bumi impian.
Teringat saudara saya, "mi sudah benar-benar move on
dari........" , jawabannya tidak ! saya merindukan semuanya,
sangat ! dua tahun ini BIO14 menjadi lilin untuk saya menemukan kembali
puing-puing mimpi saya, memberi sedikit penerangan ditengah kegelapan.
Saat-saat dimana saya dipaksa berenang dilautan bebas, nyaris tenggelam oleh
konflik, nyaris bingung hendak kemana dan bagaimana. Hingga kini saya bersykur
atas apa adanya diri saya. Menyusun kembali mimpi agar semua angan ini tidak
pudar dihantam ombak.
Tentang sebuah kerinduan akan mimpi yang kita semua pernah bicarakan hingga
pagi, mungkin kini sebagian kita telah berserakan di dunia kerja, di dunia
lain, namun kerinduan bernama ukhuwah tidak akan pernah bisa dikhianati.
Mimpi-mimpi besar itu tak akan kita biarkan pudar begitu saja bukan ?
kegalauan, ketakuatan, rintangan, itulah yang saya rasakan, namun bersama kita
pernah menaklukkan rasa kantuk, mungkin bersama juga kita bisa melawan kejamnya
dunia dan menjaga mimpi-mimpi ini tetap hidup.
Kita tak punya
kekuatan untuk mengingkari takdir yang Maha Kuasa, tak punya sedikitpun bocoran
bahwa saya, kamu dia, kita atau mereka akan konsisten, namun kita juga tidak
punya alasan untuk tidak mencoba, mengeratkan kembali impian bersama, mengambil
langkah, saling menguatkan dan memulai dengan sesuatu yang sederhana. Mulai
untuk berenang mengarungi dunia nyata, mengenggam impian, terus berenang, berenang
dan berenang, hingga kaki terasa mau patah ! break a leg !

Tidak ada komentar:
Posting Komentar