Selasa, 23 Desember 2014

Berenanglah sampai kaki mau patah

Ketika saya kecil ibu saya selalu berkata, "orang-orang yang memperhatikan hal kecil akan juga peduli dengan hal-hal besar dan sebaliknya, orang yang luput dengan hal-hal kecil, akan semakin lalai dengan sesuatu yang lebih besar". Sebuah pelajaran sederhana yang tentu sangat susah diambil hikmahnya. Sama dengan bagaimana kita mempola hidup dan membuat dampak yang jauh lebih besar. Dalam berjalan di arena kampuspun sy berusaha tidak melalaikan hal-hal kecil.mari kita mulai dari kisah seorang aktifis, Mengapa ?  dengan sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh teman saya "ternyata aktivis itu nggak bisa lepas dari aktivitas-aktivitas seperti itu ya ?" pernyataan itu terlontar kepada saya tepat setelah sekarang bukan siapa2, dan pada kesempatan ini saya jawab, "why ? siapa yang bangga disebut mantan aktivis ?".

Kebanyakan dari aktivis kampus sangat gahar ketika masih di Universitas, namun perlahan memudar ketika mengenal dunia nyata, mulai mengambang dalam mengenali siapa dirinya dan langkah kelajutan apa yang akan dia ambil, dari 100% pelaku, tidak lebih dari 30% yang konsisten dengan pilihannya. Bisa jadi karena tuntutan zaman atau tidak terfasilitasi untuk menjadi diri sendiri. Pada realitanya tidak ada yang biasa memfasilitasi impian2 kita dengan mudah, pada realitanya mmasih banyak yang berusaha menggadaikan idealismenya, pada realitanya tidak semua teori dapat diterima dengan baik.


Saya punya sekelompok saudara , 'yang sampai kapanpun akan tetap menjadi saudara', kami sama-sama bermimpi pada forum-forum yang hidup hingga pagi. Tentang masa depan, bukan masa depan sederhana, masa depan Lampung, masa depan Indonesia, dan masa depan Dunia. Bak pembuat kebijakan atau think thank Bank Dunia yang memiliki kendali besar kami semangat berdiskusi, belajar merumuskan hal-hal besar, bersama di masa muda, kami menari-nari di bumi impian.
Teringat saudara saya, "mi sudah benar-benar move on dari........" , jawabannya tidak ! saya merindukan semuanya, sangat ! dua tahun ini BIO14 menjadi lilin untuk saya menemukan kembali puing-puing mimpi saya, memberi sedikit penerangan ditengah kegelapan. Saat-saat dimana saya dipaksa berenang dilautan bebas, nyaris tenggelam oleh konflik, nyaris bingung hendak kemana dan bagaimana. Hingga kini saya bersykur atas apa adanya diri saya. Menyusun kembali mimpi agar semua angan ini tidak pudar dihantam ombak. 

Tentang sebuah kerinduan akan mimpi yang kita semua pernah bicarakan hingga pagi, mungkin kini sebagian kita telah berserakan di dunia kerja, di dunia lain, namun kerinduan bernama ukhuwah tidak akan pernah bisa dikhianati. Mimpi-mimpi besar itu tak akan kita biarkan pudar begitu saja bukan ? kegalauan, ketakuatan, rintangan, itulah yang saya rasakan, namun bersama kita pernah menaklukkan rasa kantuk, mungkin bersama juga kita bisa melawan kejamnya dunia dan menjaga mimpi-mimpi ini tetap hidup.

Kita tak punya kekuatan untuk mengingkari takdir yang Maha Kuasa, tak punya sedikitpun bocoran bahwa saya, kamu dia, kita atau mereka akan konsisten, namun kita juga tidak punya alasan untuk tidak mencoba, mengeratkan kembali impian bersama, mengambil langkah, saling menguatkan dan memulai dengan sesuatu yang sederhana. Mulai untuk berenang mengarungi dunia nyata, mengenggam impian, terus berenang, berenang dan berenang, hingga kaki terasa mau patah ! break a leg !


Asyiknya Menjadi Guru




Guru bukanlah profesi, menjadi guru adalah pilihan hidup. Sebuah pilihan yang tidak hanya mempengaruhi hidup seorang guru saja namun juga puluhan dan ratusan anak-anak. Meskipun ini adalah cita-citaku sejak kecil namun aku juga punya mimpi lain yang ingin aku wujudkan.
Tak usah meratapi apa yang telah terjadi karena kini aku bersyukur menjadi seorang pendidik. Mungkin secara finansial aku tak seperti teman-temanku yang lain tapi aku memiliki segudang cerita dan kenangan indah bersama anak-anakku.
Menjadi guru SMP yang notabene siswanya merupakan remaja yang tengah mencari jati diri bukan hal yang mudah. Memang secara pemikiran mereka lebih mudah untuk menerima pelajaran namun secara psikis mereka adalah pribadi yang rapuh.


Meskipun aku mengampu mata pelajaran eksak yang notabene serius namun aku mencoba mendalami sisi psikologis mereka. Aku tak mau hanya mengajar namun aku juga ingin mendidik. Tak muluk, keinginanku hanya ingin berkontribusi secara positif kepada mereka. Aku ingin membantu mereka menemukan jati diri yang baik, jati diri yang mampu membuat mereka menjadi seorang yang sukses di masa depan.

Aku memang belum lama berkecimpung di dunia ini dan tak banyak pengalaman yang aku punya namun aku selalu berusaha untuk menjadi lebih baik meskipun masih banyak kekurangan. Aku tahu aku bukanlah guru yang pandai dan baik, aku masih sering kesulitan menjelaskan, aku juga masih sering marah-marah, kesal, dan bete ketika mengajar namun aku selalu berusaha memperbaiki itu.
Satu prinsiku, seberat apapun masalah yang kita hadapi, sehancur apapun perasan kita, atau segalau apapun hati kita, tapi aku tak pernah mau menunjukkan ke mereka atau hanya memberi mereka tugas saja demi menghindari tugasku untu mengajar. Pantang sekali bagiku untuk melakukan itu. Aku memang sering marah-marah dan aku bukanlah orang yang sabar namun aku tak pernah ingin memarahi mereka tanpa alasan atau hanya karena masalah pribadi. Kalaupun aku marah-marah itu lebih karena aku menyayangi mereka. Aku ingin mereka sadar dan segera mengubah sifat buruk mereka. Sebenci-bencinya aku dengan seorang murid pantang bagiku untuk tidak memperhatikannya.

Di sela-sela waktu mengajar yang kadang terasa berat buat mereka, aku selalu menyisipkan cerita inspiratif, motivasi, dan nasehat buat mereka agar mereka lebih baik. Karena aku ingin mereka tak hanya pintar secara otak tapi pintar secara akhlak. Aku pun mencoba untuk bersikap tegas dan disiplin sehingga kadang mereka sebel denganku namun itu aku lakukan demi kebaikan mereka.
Sudah dua angkatan aku mengajar, banyak kisah indah dan sedih yang aku lewati. Ah seandainya aku bisa memilih, aku ingin mengajar mereka selamanya. Aku ingin melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang sukses. Senang hatiku ketika mereka menyapaku dan mencium tanganku. Hal sepele yang kadang mereka lupakan tapi begitu berharga bagiku.
Begitu bangga jika melihat muridku yang dulu bandel sekarang mulai terarah namun begitu sedih hatiku jika mereka yang dulu aku bina mati-matian namun sekarang berubah kembali menjadi nakal. Rasanya aku ingin menarik mereka dan aku ingin mengajarinya lagi.
Dulu seoang anak Les pernah berkata kepadaku bahwa gara-gara aku, dia sekarang bisa dan suka Biologi dan dia berharap aku menjadi gurunya nanti. Ada juga anak yang mengatakan aku membawa aura positif dalam kelas. Malu rasanya jika mengingat hal itu namun aku bangga dan itu sebagai motivasiku dalam mengajar lebih baik lagi.

Tidak hanya itu, setiap pembelajaran akhir semester pasti aku selalu mengadakan evaluasi, banyak catatan dari merekan, diantaranya : ibu itu terlalu lebay saat mengajar, ibu disiplin tapi juga galak jadi Deg-degan saat ibu mengajar, Suara ibu terlalu lembut dan merdu hingga membuat saya mengantuk, Ibu suka modar-mandir saat mengajar sehingga membuat saya bingung, ibu tidak mau melepas sepatu saat mengajar, ibu sangat peduli kepada kami, ibu mengajar tidak membosankan, ibu selalu terlihat rapi dan cantik, ibu bisaa membuat kami tertawa lepas, ibu selalu memotivasi dengan kata-kata yang baik, ibu mengajar dengan bermain, kami suka saat kita chiken dance. Dan sekarang saya sangat senang membaca catatan-catatan kecil yang kalian berikan. Jika saya mengajar terlalu menggunakan jiwa sampai terkadang jadi terlalu berlebiahan memperlakukan kalian. 

Selagi Ayah masih ada

Ayahku:Engkau jualah Pahlawan Hatiku.

Pengorbanan Seorang Ayah

Lagu Ebiet berjudul ”Ayah” mungkin bias mengingatkan seseorang akan kebesaran seorang ayah. Ya, pengorbanan besar seorang ayah tidak bisa dilupakan sepanjang masa.
Tapi biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya akan merasa kangen sekali dengan mamanya. Lalu bagaimana dengan papa?
ayah saat aku menangis, kau begitu memperdulikanku

Mungkin karena ibuk lebih sering menelepon untuk menanyakan kepadamu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Bapak-lah yang mengingatkan Ibuk untuk menelponmu? Dulu sewaktu kamu kecil, Ibuk yang lebih sering mengajakmu bercerita, tapi tahukah kamu bahwa sepulang papa bekerja dan dengan wajah lelah Bapak selalu menanyakan pada ibuk tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Saat masih kecil papa biasa mengajari naik sepeda. Setelah mengganggapmu bisa, Bapak akan melepaskan roda bantu di sepedamu. Kemudian mama bilang: Jangan dilepas dulu roda bantunya. Ibuk takut adik terjatuh dan terluka. Tapi sadarkah bahwa papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu ”kamu pasti bisa”.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, mama menatapmu iba, tetapi Bapak akan mengatakan dengan tegas: Besok ya, Bapak belikan. Tahukah kamu hal itu karena papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu terpenuhi.

Ketika sudah beranjak dewasa, kamu mulai menuntut Bpak untuk dapat izin keluar malam, dan Bapak bersikap tegas dan mengatakan: Tidak boleh. Tahukah kamu bahwa papa melakukan itu untuk menjagamu, karena bagi Bapak, kamu adalah sesuatu yang sangat-sangat luar biasa berharga.

Setelah itu kamu marah pada Bapak, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. Dan yang dating mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah  Ibuk. Tahukah kamu bahwa saat itu Bapak memejamkan mata dan menahan gejolak dalam batinnya. Sebenarnya Bapak sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia harus menjagamu?

Sadarkah kamu bahwa ini karena hal yang sangat ditakuti Bapak akan segera datang? Bahwa putrid kecilnya akan segera pergi meninggalkan. Ketika kamu menjadi gadis dewasa, dan kamu harus pergi kuliah di kota lain papa harus melepasmu.

Tahukah kamu bahwa badan Bapak terasa kaku untuk memelukmu? Bpak hanya tersenyum sambil member nasihat ini-itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal papa ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat. Yang Bapak lakukan hanya menghapus sedikit  air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu sambil berkata: Jaga dirimu baik-baik ya sayang. Bapak melakukan itu semua agar kamu kuat. Kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana, papa adalah orang pertama yang berdiri dan member tepuk tangan untukmu. Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat putrid kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang. Sampai saat seorang teman lelakimu dating kerumah dan meminta izin pada papa untuk mengambilmu. Bapak akan sangat berhati-hati memberikan izin, karena Bapak tahu bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Akhirnya, saat Bapak melihatmu duduk di panggung pelaminan bersama seseorang lelaki  yang dianggapnya pantas menggantikannya, Bapak pun tersenyum bahagia. Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Bapak pergi kebelakang panggung sebentar dan menangis? Bapak menangis karena Bapak sangat berbahagia, kemudian Bapak berdoa:  Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik.

Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik.  Bahagiakanlah ia bersama suaminya. Setelah itu Bapak hanya bias menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucu,  yang sesekali dating untuk menjenguk. Rambut papa telah semakin memutih dan badan serta lengan tak lagi kuat untuk menjagamu. Bapak telah menyelesaikan tugasnya.

Papa, daddy, ayah, bapak, babe, paĆ­e atau abah kita adalah sesosok yang harus selalu terlihat kuat. Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis.  Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. Dia adalah orang pertama yang selalu yakin bahwa ”kamu bisa” dalam segala hal.